Perdebatan Ayat Alkitab: Kejadian 1:26-28

Kata “Kita” dalam Kejadian 1:26, Apakah merujuk pada Ketritunggalan?

* Kejadian 1: 26-28

1: 26

LAI TB,

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

KJV,

And God said, Let us make man in our image, after our likeness: and let them have dominion over the fish of the sea, and over the fowl of the air, and over the cattle, and over all the earth, and over every creeping thing that creepeth upon the earth.

Hebrew,

וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים נַֽעֲשֶׂה אָדָם בְּצַלְמֵנוּ כִּדְמוּתֵנוּ וְיִרְדּוּ בִדְגַת הַיָּם וּבְעֹוף הַשָּׁמַיִם וּבַבְּהֵמָה וּבְכָל־הָאָרֶץ וּבְכָל־הָרֶמֶשׂ הָֽרֹמֵשׂ עַל־הָאָֽרֶץ׃

Translit. Interlinear,

VAYO’MER {dan Dia berfirman} ‘ELOHIM {Allah} NA’ASEH {marilah kita akan menjadikan} ‘ADAM {manusia} BETSALMENU {pada gambar kita} KIDMUTENU {seperti rupa kita} VEYIRDU {dan mereka akan memerintah/menguasai} VIDGAT {pada ikan} HAYAM {laut itu} UVE’OF {dan pada unggas} HASYAMAYIM {langit itu} UVABEHEMAH {dan pada ternak} UVEKHOL-HA’ARETS {dan pada seluruh bumi itu} UVEKHOL-HAREMES {dan pada seluruh yang melata} HAROMES {binatang merayap} ‘AL-HA’ARETS {atas bumi itu}.

1: 27

LAI TB,

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

KJV,

So God created man in his own image, in the image of God created he him; male and female created he them.

Hebrew,

וַיִּבְרָא אֱלֹהִים ׀ אֶת־הָֽאָדָם בְּצַלְמֹו בְּצֶלֶם אֱלֹהִים בָּרָא אֹתֹו זָכָר וּנְקֵבָה בָּרָא אֹתָֽם׃

Translit. Interlinear,

VAYIVRA’ {dan Dia menciptakan} ‘ELOHIM {Allah} ‘ET-HA’ADAM {manusia itu} BETSALMO {pada gambar-Nya} BETSELEM {pada gambar} ‘ELOHIM {Allah} BARA’ {Dia menciptakan} ‘OTO {-nya} ZAKHAR {laki-laki} UNEQEVAH {dan perempuan} BARA’ {Dia menciptakan} ‘OTAM {mereka}.

1: 28

LAI TB,

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

KJV,

And God blessed them, and God said unto them, Be fruitful, and multiply, and replenish the earth, and subdue it: and have dominion over the fish of the sea, and over the fowl of the air, and over every living thing that moveth upon the earth.

Hebrew,

וַיְבָרֶךְ אֹתָם אֱלֹהִים וַיֹּאמֶר לָהֶם אֱלֹהִים פְּרוּ וּרְבוּ וּמִלְאוּ אֶת־הָאָרֶץ וְכִבְשֻׁהָ וּרְדוּ בִּדְגַת הַיָּם וּבְעֹוף הַשָּׁמַיִם וּבְכָל־חַיָּה הָֽרֹמֶשֶׂת עַל־הָאָֽרֶץ׃

Translit. Interlinear,

VAVAREKH {dan Dia memberkati} ‘OTAM {mereka} ‘ELOHIM {Allah} VAYO’MER {dan Dia berfirman} LAHEM {kepada mereka} ‘ELOHIM {Allah} PERU {hendaklah mereka berbuah/beranak cucu} UREVU {dan hendaklah mereka banyak} UMIL’U {dan mereka memenuhi} ‘ET-HA’ARETS {bumi itu} VEKHIVSYUHA {dan mereka menguasainya} UREDU {dan mereka memerintah} BIDGAT {pada ikan} HAYAM {laut itu} UVE’OF {dan pada unggas} HASYAMAYIM {langit itu} UVEKHAL-KHAYAH {dan pada seluruh binatang} HAROMESET {yang merayap} ‘AL-HA’ARETS {atas bumi itu}.

Ayat 26 :

“Menurut gambar”, Ibrani ” צלם – TSELEM” “dan rupa kita”, Ibrani ” דמות – DEMUT”. Sekalipun dua istilah ini kelihatannya “sinonim” namun memiliki arti yang berbeda, tampaknya tidak dimaksudkan untuk menyampaikan aspek yang berbeda dari diri Allah. Jelas bahwa manusia memiliki kedudukan mulia karena dijadikan dari suatu “image” khusus dari kemuliaanNya sendiri. Manusia adalah makhluk yang dapat dikunjungi serta dapat berhubungan dan bersekutu dengan Khaliknya. Sebaliknya Allah dapat mengharapkan manusia untuk menanggapi-Nya dan bertanggung jawab kepadaNya. Manusia diberi kuasa untuk memiliki hak memilih, bahkan hingga ke tingkat “tidak mentaati” Khaliknya. Manusia diberi mandat oleh Allah di bumi, melaksanakan dan bertanggung-jawab sesuai kehendak Sang Khalik (ayat 28).

——————

Masalah kata “KITA” dalam Kejadian 1:26 :

Ada aneka ragam pendapat dan penafsiran. Pendapat dan penafsiran ini belum tentu benar, dan belum tentu pula dapat dipersalahkan.

[1] Yudaisme Rabbinik

Allah sedang berbicara kepada para malaikat yang ada di sekeliling-Nya. Parafrasa Targum Yonatan menulis, “Dan Allah berkata kepada malaikat malaikat yang melayani yang sudah diciptakan-Nya pada hari kedua dari penciptaan alam semesta, ‘Mari KITA jadikan manusia’”.

Reff: http://targum.info/pj/pjgen1-6.htm
And the Lord said to the angels who ministered before Him, who had been created in the second day of the creation of the world, Let us make man in Our image, in Our likeness; and let them rule over the fish of the sea, and over the fowl which are in the atmosphere of heaven, and over the cattle, and over all the earth, and over every reptile creeping upon the earth. And the Lord created man in His Likeness:

Saat Musa menulis kitab Taurat dan tiba pada ayat ini “Baiklah KITA menjadikan manusia…” yang dalam bentuk jamak serta menyiratkan adanya kejamakan dalam pribadi Allah, Musa berkata, “Wahai Raja Semesta Alam! Mengapa Engkau memberikan ayat yang menyiratkan adanya kejamakan Allah?” Allah menyahut, “Tulislah! Siapa saja yang ingin sesat, biarlah ia sesat. Sesungguhnya, hendaklah mereka mempelajari dari Pencipta-Nya yang menciptakan segala sesuatu, bahwa tatkala Dia akan menjadikan manusia, Dia pun mengadakan musyawarah dengan para malaikat-Nya.”

[2] Yudaisme Messianik

Allah sedang berbicara kepada pribadi-Nya sendiri karena pribadi Allah itu kompleks, di sana ada firman-Nya, Roh-Nya, kehendak-Nya, dan lain-lain.

[3] Kristen yang Trinitarian

Bapa sedang berbicara kepada Anak, dan kepada Roh Kudus.

[4] Kristen yang non-Trinitarian.

Allah sedang berbicara kepada malaikat yang ada di sekitar-Nya.

————-

Kajian Kejadian 1:26 :

Seperti kita telah ketahui kata ” אלהים – ‘ELOHÎM” adalah bentuk jamak karena akhiran ” ים ; yod – mem” merupakan akhiran jamak. Bentuk jamak ini dalam pengertian bahasa Ibrani dikenal dengan istilah ‘plural of majesty’, “bentuk jamak kebesaran”, mengandung ide pluralitas dalam kesatuan, Allah yang ” אחד – ‘EKHAD”.

Kejadian 1:26, terdapat 2 jenis kata kerja yang berbeda, kata kerja untuk oknum singular, dan kata kerja untuk oknum plural.

Frasa pertama : KJV menterjemahkan “And God said”, dan LAI-TB menterjemahkan “Berfirmanlah Allah”. Naskah bahasa Ibrani menulis dengan “kata kerja ‘singular’” diucapkan oleh oknum yang “plural” (dalam artian ‘plural of majesty’) :

וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים
VAYO’MER {dan Dia berfirman} ‘ELOHIM {Allah}

Note:
kata “VAYO’MER” di sana ditulis dalam bentuk tunggal. Bandingkan dengan kata-kata yang biasa digunakan dalam Perjanjian Lama untuk “berkata” atau “berfirman” ini:

VAYO’MER, dan Dia berfirman (maskulin)
VATO’MER, dan ia berkata (feminin)
VA’OMAR, dan Aku berfirman
VANO’MER, dan kami/kita berkata
VAYO’MRU, dan mereka berkata

Pada Frasa kedua, kita temukan penulisan “kata kerja ‘plural’” :

נַעֲשֶׂה אָדָם בְּצַלְמֵנוּ כִּדְמוּתֵנוּ

NA’ASEH {marilah kita akan menjadikan (plural)} ‘ADAM {manusia} BETSALMENU {pada gambar kita (plural)} KIDMUTENU {seperti rupa kita (plural)}

Kata kerja ” נעשה – NA’ASEH” yang ‘plural’ ini (yang berbeda dengan “jenis” kata kerja pada frasa pertama) berasal dari kata kerja ” עשה – ‘ASAH”. Ini tentu lebih cocok “ditafsirkan” bahwa Allah sedang berbicara dengan oknum-oknum “diluar” diriNya, karena sebelumnya terdapat kata kerja dengan bentuk singular ” ויאמר – VAYO’MER”. Maka penafsiran dari kalangan Yudaisme Rabinik sebagai kalangan yang paham betul bahasa Ibrani ini kelihatannya lebih mendekati kebenaran. Yaitu bahwa Allah sedang berbicara kepada malaikat-malaikat disekitarnya/ bala tentara sorgawi, atau yang lebih dikenal dengan istilah “sidang ilahi”.

Jika kita membaca ayat dalam terjemahan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, 2 jenis kata kerja yang berbeda tidak terlihat jelas, sehingga sebagian kalangan Trinitarian memandang kata “KITA” itu sebagai “Bapa sedang berbicara kepada Anak, dan kepada Roh Kudus”. Namun, seperti penjelasan diatas dalam bahasa Ibraninya tidak dapat dianggap seperti itu, demikian pula dalam bahasa Yunani. Mari kita baca bersama terjemahan Septuaginta (LXX), sbb :

* Genesis 1:26

LXX,

και ειπεν ο θεος ποιησωμεν ανθρωπον κατ’ εικονα ημετεραν και καθ’ ομοιωσιν και αρχετωσαν των ιχθυων της θαλασσης και των πετεινων του ουρανου και των κτηνων και πασης της γης και παντων των ερπετων των ερποντων επι της γης

Translit,

KAI {dan} EIPEN {Dia berkata, verb – second aorist active indicative – third person singular } HO THEOS {Allah} POIÊSÔMEN {baiklah Kita menjadikan, verb – future active indicative – first person plural} ANTHRÔPON {manusia} KAT’ EIKONA HÊMETERAN KAI KATH’ HOMOIÔSIN KAI ARKHETÔSAN TÔN IKHTHUÔN TÊS THALASSÊS KAI TÔN PETEINÔN T OU OURANOU KAI TÔN KTÊNÔN KAI PASÊS TÊS GÊS KAI PANTÔN TÔN HERPETÔN TÔN ERPONTÔN EPI TÊS GÊS

Seperti Tanakh Ibrani, Septuaginta juga menyajikan 2 jenis kata kerja yang berbeda yang satu merujuk kepada Allah sendiri “ειπεν – EIPEN” (Dia berkata, verb – second aorist active indicative – third person singular), dan kata kerja yang lainnya yang plural diucapkan oleh Allah kepada oknum-oknum diluar diriNya, kata tersebut adalah kata “ποιησωμεν – POIÊSÔMEN” (baiklah Kita menjadikan, verb – future active indicative – first person plural) yaitu kata kerja yang berasal dari kata “ποιεω –poieô”, leksikon Yunani : to make or do (in a very wide application, more or less direct).

—–

Ada beberapa buku Commentary yang menyatakan bahwa kata “Kita” adalah ucapan Allah kepada bala tentara Surga. Berikut ini saya kutip dari Tafsiran Alkitab Masa Kini (THE NEW BIBLE COMMENTARY – Revised, Inter-Varsity Press, London, 1976, vol 1 halaman 82 ) :

“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita”, Bentuk jamak oknum pertama “kita”, itu agaknya harus diterangkan demikian : bahwa Sang Pencipta berfirman sebagai Raja Sorgawi dihadapan bala tentara Sorgawi. Pada Alkitab bagian lain ungkapan ini tampil tampil, bahwa makhluk-makhluk roh (malaikat-malaikat) yang melayani hadir di dekatNya (bandingkan Kejadian 3:22, 24; 11:7, dan 18:21; bandingkan dengan Kejadian 18:2; 19:1 dan yesaya 6:8 ).

Manusia dan makhluk-makhluk roh sorgawi (malaikat-malaikat), sama-sama adalah makhluk berpribadi yang diikutsertakan dalam hubungan historis yang bertanggung jawab dengan Allah. Gambar Allah ini tidak dapat hilang dan tidak dapat dikurangi, tetapi arah kesusilaannya dapat dibalik. Gambar itu mengambil bentuknya yang benar, sudah barangtentu, dalam persesuaiannya dengan kehendak Allah yang kudus

Dalam The Wycliffe Bible Commentary, Vol 1 halaman 28, juga menulis “senada”, saya kutip sebagian :

“Baiklah Kita menjadikan manusia” adalah narasi yang menggambarkan Allah sebagai meminta dewan surgawi untuk memusatkan perhatian mereka kepada suatu rencana penciptaan manusia. Dan meminta mereka memusatkan perhatian pada peristiwa ini

 ayat 27 :

LAI TB,

Maka Allah MENCIPTAKAN’ (BARA’) manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah DICIPTAKAN-NYA (BARA’) dia; laki-laki dan perempuan DICIPTAKAN-NYA (BARA’) mereka.

KJV,

So God created man in his own image, in the image of God created he him; male and female created he them.

Hebrew,

וַיִּבְרָא אֱלֹהִים ׀ אֶת־הָֽאָדָם בְּצַלְמֹו בְּצֶלֶם אֱלֹהִים בָּרָא אֹתֹו זָכָר וּנְקֵבָה בָּרָא אֹתָֽם׃

Translit. Interlinear,

VAYIVRA’ {dan Dia menciptakan (singular)} ‘ELOHIM {Allah} ‘ET-HA’ADAM {manusia itu} BETSALMO {pada gambar-Nya} BETSELEM {pada gambar} ‘ELOHIM {Allah} BARA’ {Dia menciptakan} ‘OTO {-nya} ZAKHAR {laki-laki} UNEQEVAH {dan perempuan} BARA’ {Dia menciptakan} ‘OTAM {mereka}.

Ayat diatas menulis dengan jelas dalam bahasa Ibrani, bahwa penciptaan dilaksanakan oleh Allah sendiri (perhatikan kata kerja bentuk ‘singular’) yaitu kata yang “khas” digunakan oleh Allah saja yaitu kata Ibrani ” ברא – BARA’”, manusia atau makhluk lain tidak mungkin mencapai kuasa-kuasa yang terkandung dalam istilah ini, sebab kata ini menggambarkan mujizat sempurna. Dengan kuasa tertinggi untuk menciptakan dan ini hanya dimiliki oleh Allah saja. Study kata ” ברא – BARA’” dapat Anda lihat di viewtopic.php?p=409#409 . Maka meskipun dalam “Sidang Ilahi” itu Allah berbicara kepada bala tentara Sorgawi, penciptaan manusia Ia laksanakan sendiri (” ברא – BARA’”, kata kerja bentuk ‘singular’).

Ayat 26 dalam terjemahan LAI-TB menulis “kita menjadikan” KJV menulis “Let us make” dalam bahasa asli Ibrani menulis ” נעשה – NA’ASEH” dan terjemahan LXX “ποιησωμεν – POIÊSÔMEN”, sedangkan dalam penciptaannnya sendiri digunakan kata yang lain yaitu kata ” ברא – BARA’” yang berbentuk singular (ayat 27) (menciptakan, KJV : created).

Kata “menjadikan” dan “menciptakan” ini tentu mempunyai bobot yang berbeda. Bahwa ketika Allah berbicara kepada bala tentara Sorgawi Ia berbicara dengan kata “menjadikan”, Sedangkan “penciptaan” manusia dilakukan hanya oleh Allah sendiri ” ברא – BARA’”, dimana kata ‘BARA’ ini adalah kata yang spesifik hanya untuk Allah saja.

Dengan demikian jelas, kita telah meneliti pemakaian kata “Kita” oleh Allah di dalam Perjanjian Lama, berarti Allah berkata kepada malaikat yang ada di sekitarnya, bahwa para malaikat itu terlibat di dalamnya. Saat Dia berfirman kepada manusia, Allah tidak pernah menggunakan kata “Kita/ Kami”.

Maka, dengan kajian ayat secara tekstual dan juga adanya referensi-referensi yang dikutip diatas, saya pribadi, memilih pada penafsiran kata “Kita” yang tidak merujuk kepada “TRINITAS”, bukan berarti penafsiran ini menentang pada doktrin Trinitas. Kejadian 1:26 secara tekstual tidak mengarah kepada “dalil Trinitas”. Namun di ayat-ayat lain dalam Alkitab kita dapat kita temukan banyak sekali yang dapat kita mengerti dan pahami sebagai dasar dari doktrin Trinitas. Misalnya, Perjanjian Lama sering merujuk bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah yang Kudus (Ibrani ” רוח הקודש – RUAKH HAQODESY”), dan bahwa terdapat jelas informasi keterlibatan Roh Kudus dalam penciptaan (Kejadian 1:2) dan juga ayat-ayat lain seperti yang dikutip dalam Artikel di roh-kudus-vt33.html#p73 .

Bagi kalangan Trinitarian, kita tak perlu kawatir dengan penjabaran Kejadian 1:26 yang memang tidak mengarah kepada “Trinitas”, dan tidak usah menganggap kajian tersebut “kontra Trinitas”, bagaimanapun Allah kita adalah ALLAH yang SANGAT MAHA DALAM KEPRIBADIANNYA dan SANGAT PRIBADI DALAM KEMAHAANNYA.
Hakekat Allah itu diluar pemikiran manusia, kita hanya bisa menjabarkannya sebatas kapasitas tempurung otak kita. Allah itu ber-otoritas, Ketika Allah memutuskan Ia menjelma ke bumi sebagai manusia, bukan berarti ada bagian dari diriNya yang berkurang atau bahkan hilang.

Bapa Gereja Tertulianus (120 – 225 AD), mewariskan doktrin yang sangat bagus yaitu doktrin Trinitas yang membantu kita untuk memahami hakekat Allah yang kompleks itu dan diluar jangkauan akal manusia, ia terinspirasi oleh perkataan Tuhan Yesus sendiri dalam :

* Matius 28:19

LAI TB,

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam ‘nama’ (‘ONOMA’) Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

KJV,

Go ye therefore, and teach all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Ghost:

NIV,

Therefore go and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit,

Text bahasa aslinya adalah demikian :

Textus Receptus (TR) :

πορευθεντες ουν μαθητευσατε παντα τα εθνη βαπτιζοντες αυτους εις το ονομα του πατρος και του υιου και του αγιου πνευματος

Translit,

poreuthentes oun mathêteusate panta ta ethnê baptizontes autous eis to onoma tou patros kai tou huiou kai tou hagiou pneumatos

Perubahan bentuk kata “ονομα – ONOMA” :

Tunggal:
Nominatif, ‘ONOMA’
Genitif, ‘ONOMATOS’
Datif, ‘ONOMATI’
Akusatif, ‘ONOMA’

Jamak:
Nominatif, ‘ONOMATA’
Genitif, ‘ONOMATON’
Datif, ‘ONOMASIN’
Akusatif, ‘ONOMATA’

Bapa, Anak, dan Roh Kudus, masing-masing bukanlah “nama”.

Konsep ini tidak bertentangan dengan TANAKH IBRANI :

Salah satu contoh ayat :

* Kejadian 1:1

LAI TB,

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

KJV,

In the beginning God created the heaven and the earth.

Hebrew,

בְּרֵאשִׁית בָּרָא אֱלֹהִים אֵת הַשָּׁמַיִם וְאֵת הָאָרֶץ׃

Translit,

BERE’SYIT {pada mulanya} BARA’ {Dia menciptakan} ‘ELOHIM {Allah} ‘ET HASYAMAYIM {langit itu} VE’ET {dan} HA’ARETS {bumi itu}

Kata Allah dalam bahasa Ibrani ” אלהים – ‘ELOHÎM” menggunakan bentuk jamak tetapi dengan kata kerja tunggal (singular) : ” ברא – BARA’”, hal ini saja sudah menyiratkan keesaan Allah yang serba kompleks.

Alkitab mengajar dengan jelas bahwa Allah itu Esa :

* Ulangan 6:4

LAI-TB,

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

KJV,

Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD:

Hebrew,

שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָֽד ׃

Translit interlinear,

SYEMA’ {dengarlah} YISRA’EL {Israel} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} ‘ELOHEINÛ {Allah kita} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} EKHAD {esa}”

Yesus Kristus sendiri menekankan pentingnya ajaran Kitab Suci ini tentang ke-Esa-an Allah :

* Markus 12:29

LAI TB,

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

KJV,

And Jesus answered him, The first of all the commandments is, Hear, O Israel; The Lord our God is one Lord:

TR,

ο δε ιησους απεκριθη αυτω οτι πρωτη πασων των εντολων ακουε ισραηλ κυριος ο θεος ημων κυριος εις εστιν

Interlinear,

ho de {dan} iêsous {Yesus} apekrithê {Dia menjawab} autô {kepadanya} hoti {bahwa} prôtê {pertama} asôn {dari segala} tôn entolôn {perintah-perintah} akoue {dengarlah engkau} israêl {Israel} kurios {Tuhan} ho theos {Allah} hêmôn {kita} kurios {Tuhan} heis {satu} estin {Dia adalah}

Sebagai seorang Kristiani yang mengimani Yesus kristus adalah Tuhan dan Allah, kita tahu bahwa paham Trinitas sama sekali tidak berarti adanya tiga allah sebagaimana yang dibayangkan secara salah oleh beberapa kalangan, termasuk beberapa kelompok “Kristen” sendiri. Arti dari paham ini ialah bahwa Allah itu satu adanya.

Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Monoteisme jelas sekali dalam kata-kataNya, “baptislah mereka dalam nama”–> ‘ONOMA’ (single).
Yesus tidak berkata baptislah mereka dalam nama-nama ‘ONOMATA’ (plural) Bapa, Anak dan Roh Kudus. Namun Keesaan dipaparkan dengan jelas dalam kata-kataNya, “ονομα του πατρος και του υιου και του αγιου πνευματος – ONOMA TOU PATROS KAI TOU HUIOU KAI TOU HAGIOU PNEUMATOS” (lihat penjelasan diatas) . Bapa Gereja Tertulianus, ia adalah yang mula pertama mencetuskan ide, gagasan dan dengan tepat mendasarkan doktrin Trinitas dari ayat Matius 28:19 dan dia menjabarkannya dalam suatu doktrin yang berbunyi : ‘una substantia tres personae’, “satu substansi/hakekat tiga pribadi”.

Allah yang Esa bukan berarti Allah seperti seonggok batu. Saya meyakini keesaan Allah yang multi-kompleks. Kata Allah dalam bahasa Ibrani ‘ELOHIM menggunakan bentuk jamak tetapi dengan kata kerja tunggal, hal ini saja sudah menyiratkan keesaan Allah yang serba kompleks.

Blessings in Christ,
BP
November 9, 2007

This entry was posted in Serba-serbi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply